Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah di Balik Nama “Bongkar”, Sebuah Identitas Komisariat PMII di Kampus STIT Al Muslihuun

Ilustrasi

Ada nama yang lahir dari sebuah keputusan. Ada pula nama yang lahir dari sebuah perjalanan panjang, dari percakapan yang tidak selesai dalam satu malam, dari perdebatan yang melelahkan, dari gelak tawa yang menyelingi keseriusan, dan dari kegelisahan anak-anak muda yang sedang mencari identitas.

Bagi saya, nama “Bongkar” adalah nama yang kedua. Ia bukan sekedar nama. Ia lahir dari sebuah proses. Dari kegelisahan. Dari mimpi. Dan, yang paling penting, dari semangat para kader muda PMII yang pada saat itu ingin memiliki sebuah identitas.

Kini, lebih dari dua puluh tahun telah berlalu. Banyak hal telah berubah. Wajah-wajah kader yang dahulu duduk bersama dalam forum-forum diskusi mungkin telah berganti. Sebagian telah melanjutkan perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang menjadi guru, aktivis, pengusaha, birokrat, politisi, pekerja sosial, dan menekuni berbagai profesi lainnya.

Namun, ada satu hal yang masih tinggal. Sebuah nama: "Bongkar". Nama yang dahulu lahir dari percakapan panjang di sebuah rumah tua sederhana, kini telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah kaderisasi PMII di kampus STIT Al Muslihuun.

Sekitar dua puluh tahunan yang lalu, tepatnya ketika saya mendapat amanah sebagai Ketua Komisariat PMII STIT Al Muslihuun periode 2005–2006, tumbuh sebuah kegelisahan sederhana di antara para kader dan anggota. Kami ingin komisariat kami memiliki nama.

Keinginan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi kami saat itu, sebuah nama bukan sekedar sebutan. Nama adalah identitas. Nama adalah penanda. Nama adalah cara sebuah komunitas memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Ketika berinteraksi dengan sahabat-sahabat PMII dari berbagai kampus dan daerah, kami menemukan banyak rayon dan komisariat yang telah memiliki nama khas. Nama-nama tersebut bukan hanya menjadi identitas organisasi, tetapi juga menjadi simbol karakter, semangat, dan cita-cita kader yang ada di dalamnya.

Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan: Mengapa Komisariat PMII STIT Al Muslihuun tidak memiliki nama sendiri?. Pertanyaan sederhana itu kemudian berkembang menjadi sebuah gagasan. Kami ingin memiliki nama yang bukan hanya mudah diingat, tetapi juga memiliki makna. Nama yang bisa menjadi identitas. Nama yang bisa diwariskan. Nama yang setiap kali disebut, mampu mengingatkan kader pada semangat dan nilai-nilai yang pernah diperjuangkan oleh para pendahulunya.

Saya mungkin sudah lupa hari dan tanggal tepatnya. Ingatan manusia memang tidak selalu mampu menyimpan seluruh detail waktu. Tetapi ada peristiwa tertentu yang begitu membekas, sehingga suasananya tetap terasa bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

Saya masih ingat betul malam itu. Saya bersama Sahabat Susanto dan Sahabat Syamsul Ma'arif, menjadi bagian dari tim yang merumuskan nama Komisariat PMII STIT Al Muslihuun.

Kami berkumpul di rumah nenek Sahabat Susanto, di Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan. Kami duduk di kursi sedan anyaman rotan, berhadap-hadapan mengelilingi sebuah meja bundar.

Saat itu malam begitu terang, sehabis Isya, diskusi dimulai. Tidak terasa waktu bergerak begitu cepat. Dari satu gagasan ke gagasan lain, dari satu nama ke nama berikutnya. Setiap nama tidak serta-merta kami terima. Kami perdebatkan, kami pertanyakan, kami timbang maknanya.

Kami tidak sedang sekedar mencari sebuah kata. Kami sedang mencari sebuah identitas. Entah berapa gelas kopi yang kami habiskan malam itu. Kopi menjadi teman setia dalam percakapan panjang yang seolah tidak mengenal waktu. Ketika malam semakin larut dan sebagian orang mungkin sudah terlelap, kami justru masih sibuk memikirkan satu hal yang bagi orang lain mungkin tampak sederhana.

Beberapa opsi nama muncul. Satu demi satu dibicarakan. Ada nama yang terdengar gagah, tetapi kurang memiliki kedalaman makna. Ada yang memiliki makna filosofis, tetapi terasa kurang mencerminkan karakter gerakan. Ada pula nama yang terdengar menarik, tetapi setelah diperdebatkan lebih jauh akhirnya kami sepakati untuk dieliminasi.

Salah satu nama yang sempat menguat adalah “Bung Karno”. Nama itu memiliki daya tarik tersendiri. Ia mengingatkan kami pada sosok proklamator, pemikir, sekaligus tokoh besar dalam sejarah bangsa Indonesia.

Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, nama itu akhirnya tidak dipilih. Sampai kemudian, di tengah diskusi panjang yang entah sudah berapa kali berputar, muncullah satu nama yang terdengar sederhana.

Nama itu adakah "Bongkar". Sederhana. Lugas. Bahkan mungkin terdengar agak “nakal”. Tetapi justru di situlah daya tariknya.

Kami mulai melihat bahwa kata Bongkar memiliki ruang tafsir yang luas. Ia bukan sekedar kata kerja. Ia bisa menjadi sikap. Ia bisa menjadi semangat. Ia bisa menjadi cara pandang.

Namun, sebuah nama yang lahir dari diskusi belum menjadi identitas organisasi sebelum mendapatkan legitimasi bersama. Karena itu, nama tersebut kemudian dibawa ke forum resmi organisasi.

Saya masih mengingat suasananya. Nama “Bongkar” kemudian secara resmi disahkan menjadi nama Komisariat PMII STIT Al Muslihuun dalam Pleno Raker Komisariat STIT Al Muslihuun yang digelar pada bulan Ramadan, tahun 2006, setelah shalat Tarawih. Tempatnya di rumah Sahabati Lutfi, Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro.

Sejak saat itu, nama "Bongkar" telah resmi menjadi identitas komisariat PMII STIT AL Muslihuun. Menjadi bagian dari perjalanan kaderisasi. Dan lebih dari dua puluh tahun kemudian, nama itu masih hidup.

Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari satu angkatan kader ke angkatan berikutnya. Dari satu masa ke masa yang lain. Barangkali, itulah salah satu keajaiban sebuah nama. Ketika ia lahir dari niat baik dan perjuangan bersama, ia bisa hidup jauh lebih lama daripada orang-orang yang pertama kali mengucapkannya.

Mungkin ada kader PMII STIT Al Muslihuun hari ini yang bertanya: Mengapa dulu nama “Bongkar” yang dipilih?. Jawabannya tentu tidak cukup hanya dengan satu kalimat. Sebab, nama Bongkar memiliki banyak lapisan makna. Ia memiliki makna dari sisi kata, makna secara filosofis, sekaligus makna sebagai sebuah harapan.

Secara sederhana, bongkar berarti membuka sesuatu yang sebelumnya tertutup, mengurai sesuatu yang tersusun, atau memisahkan bagian-bagian untuk melihat apa yang ada di dalamnya.

Dalam konteks gerakan mahasiswa, makna itu menjadi sangat menarik. Sebab, seorang kader PMII tidak seharusnya menerima realitas begitu saja. Kader harus bertanya. Mengapa?.

Ketika melihat kemiskinan, ia tidak cukup hanya merasa kasihan. Ia harus berani membongkar akar persoalannya. Ketika melihat ketidakadilan, ia tidak cukup hanya mengeluh. Ia harus berani membongkar siapa yang dirugikan dan mengapa ketidakadilan itu terjadi.

Ketika melihat kebodohan, ia tidak cukup hanya mengkritik. Ia harus membongkar akar persoalannya dan menghadirkan pendidikan. Ketika melihat kemapanan yang tidak lagi relevan, ia harus berani membongkarnya untuk menemukan kemungkinan baru. Karena itu, Bongkar bukan berarti merusak. Bongkar adalah upaya untuk membuka, mengurai, memahami, dan memperbaiki.

Sebuah rumah yang dibongkar belum tentu hendak dihancurkan. Bisa jadi ia sedang direnovasi agar menjadi lebih kuat. Sebuah mesin yang dibongkar belum tentu hendak dibuang. Bisa jadi ia sedang diperiksa agar kembali berfungsi dengan lebih baik.

Begitu pula dengan kehidupan sosial. Kadang-kadang kita perlu membongkar sesuatu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya. Setelah itu, kita memiliki pilihan: memperbaiki, membangun kembali, atau menciptakan sesuatu yang lebih baik. Di situlah saya menemukan makna terdalam dari nama Bongkar.

Dalam tradisi PMII, keberanian tidak boleh berdiri sendiri. Keberanian harus ditemani pengetahuan. Sebab, keberanian tanpa ilmu bisa berubah menjadi kecerobohan. Kritik tanpa pengetahuan bisa berubah menjadi kegaduhan.

Karena itu, kader PMII Bongkar idealnya adalah kader yang berani bertanya sekaligus mau belajar. Ia membongkar kebodohan dengan ilmu pengetahuan. Ia membongkar ketidakadilan dengan keberanian. Ia membongkar kebuntuan dengan gagasan. Ia membongkar masalah dengan analisis. Dan ia membongkar keterbelakangan dengan gerakan.

Dengan demikian, Bongkar adalah semangat intelektual. Ia mengajak kader untuk tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menolak. Setiap persoalan harus dibaca. Setiap informasi harus dikaji. Setiap realitas harus dianalisis. Setiap kritik harus diikuti dengan solusi. Sebab, tujuan akhir dari membongkar bukanlah sekedar menemukan kesalahan. Tujuan akhirnya adalah perubahan.

Membongkar realitas dan membangun perubahan. Inilah tantangan bagi generasi hari ini. Zaman terus berubah. Persoalan masyarakat semakin kompleks. Teknologi berkembang begitu cepat. Informasi datang tanpa batas. Perubahan sosial berlangsung hampir setiap hari.

Dalam situasi seperti itu, kader PMII tidak cukup hanya menjadi penonton. Kader harus memiliki kemampuan untuk membaca zaman. Bukan hanya bertanya: “Apa yang sedang terjadi?”. Tetapi juga: “Mengapa ini terjadi?” Dan lebih jauh lagi: “Apa yang harus kita lakukan?”.

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi ruh dari nama "Bongkar". Membongkar realitas bukan untuk mencaci keadaan. Membongkar bukan untuk mencari siapa yang salah. Membongkar bukan pula untuk sekedar menunjukkan bahwa kita lebih tahu.

Membongkar adalah proses untuk memahami. Memahami untuk memperbaiki. Memperbaiki untuk mengabdi. Dan mengabdi untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

Kini, setelah lebih dari dua puluh tahun nama itu lahir, saya sering membayangkan perjalanan para kader PMII yang pernah tumbuh bersama nama Bongkar.

Mungkin ada yang masih aktif di dunia pergerakan. Mungkin ada yang telah menjadi guru dan mendidik anak-anak bangsa. Mungkin ada yang menjadi pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan. Mungkin ada yang bekerja di pemerintahan. Mungkin ada yang menjadi aktivis sosial. Mungkin pula ada yang menjalani kehidupan sederhana di tengah masyarakat.

Apa pun jalan yang mereka pilih, saya berharap satu hal: Semoga mereka tetap membawa semangat "Bongkar". Semangat untuk terus belajar. Semangat untuk berani bertanya. Semangat untuk berpikir kritis. Semangat untuk membela mereka yang lemah. Semangat untuk mengabdi.

Sebab, kaderisasi sejatinya bukan hanya tentang melahirkan aktivis untuk sebuah organisasi. Kaderisasi adalah tentang melahirkan manusia yang berguna bagi kehidupan.

Maka, nama "Bongkar" pada akhirnya adalah sebuah doa. Doa agar dari komisariat PMII ini lahir kader-kader yang mampu membongkar kebodohan dengan ilmu, membongkar ketidakadilan dengan keberanian, membongkar kebuntuan dengan gagasan, dan membongkar keterbelakangan dengan kerja nyata.

Kepada kader-kader yang hari ini masih mengenakan identitas Bongkar, mungkin ada satu pesan yang ingin saya titipkan. Jangan jadikan nama "Bongkar" sekedar label organisasi. Jadikan ia sebagai karakter. Jadikan ia sebagai cara berpikir. Jadikan ia sebagai keberanian untuk terus mencari kebenaran.

Nama Bongkar harus hidup dalam tradisi diskusi. Hidup dalam budaya membaca. Hidup dalam keberanian menulis. Hidup dalam kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Hidup dalam keberanian bersuara ketika melihat ketidakadilan. Dan, yang paling penting, hidup dalam kerja-kerja nyata untuk kemanusiaan.

Kini, tugas generasi hari ini bukan hanya menjaga nama itu tetap hidup. Tugas yang lebih penting adalah menjaga ruh yang ada di baliknya. Ruh untuk terus bertanya. Ruh untuk terus belajar. Ruh untuk terus berpikir. Ruh untuk terus bergerak. Ruh untuk terus mengabdi.

Karena pada akhirnya, Bongkar bukan sekedar nama sebuah komisariat PMII. Ia adalah sebuah pesan lintas generasi: bahwa setiap zaman memiliki persoalannya sendiri, dan setiap generasi memiliki tugas untuk membacanya, membongkarnya, lalu membangun perubahan. (*)


Blitar, 29 Juli 2026

*Penulis : Putut Daerobi, Ketua Komisariat PMII Bongkar Masa Bakti 2005/2006