Kalender, Kuburan Ingatan
![]() |
| Bahrul Ulum |
Oleh: Bahrul Ulum*
Saya sering membayangkan hari-hari dalam setahun seperti sebidang tanah pemakaman yang sangat luas.
Setiap tanggal adalah sebidang tanah yang pada mulanya kosong. Lalu, perjalanan sejarah datang membawa berbagai peristiwa untuk “dikuburkan” di sana. Ada Hari Pahlawan, Hari Ibu, Hari Anak, Hari Santri, Hari Parlemen, dan entah berapa banyak hari lainnya.
Masing-masing diberi nama, diberi tanda, seolah dipasangi sebuah nisan agar generasi setelahnya tahu bahwa pernah ada sesuatu yang dianggap penting pada tanggal itu.
Tetapi jumlah hari dalam setahun tetaplah terbatas, sementara sejarah tidak pernah berhenti melahirkan peristiwa.
Maka lambat laun, pemakaman itu semakin penuh. Pada sebidang tanggal yang sama bisa berdiri lebih dari satu nisan. Satu peringatan bertemu dengan peringatan lain. Bahkan bukan tidak mungkin, nisan yang baru perlahan menutupi nisan yang lama.
Nasibnya pun menyerupai kuburan manusia.
Ada makam yang setiap tahun ramai diziarahi. Bukan hanya oleh keluarganya, tetapi oleh orang-orang dari berbagai kalangan. Bunganya selalu berganti, nisannya terawat, dan kisah tentang orang yang berbaring di bawahnya terus diceritakan.
Ada pula makam yang hanya dikunjungi keluarganya sendiri. Orang lain mungkin melewatinya tanpa merasa memiliki hubungan apa pun dengannya.
Dan ada makam yang akhirnya benar-benar sepi. Rumput tumbuh meninggi, tulisan pada nisannya mulai pudar, hingga orang tidak lagi mengetahui siapa yang pernah dikuburkan di sana.
Begitulah barangkali nasib “hari-hari peringatan”.
Ada hari yang hidup dalam ingatan hampir semua orang. Menjelang tanggalnya, masyarakat membicarakannya, sekolah memperingatinya, pemerintah mengadakan kegiatan, media memberitakannya, dan masyarakat ikut merasakan maknanya.
Ada hari yang hanya “diziarahi” oleh kalangan yang merasa memilikinya. Diperingati dengan khidmat di lingkungan sendiri, tetapi nyaris tidak terdengar di luar pagar komunitasnya.
Ada pula hari yang secara resmi masih tercatat dalam kalender peringatan, tetapi hampir tidak pernah benar-benar diperingati. Namanya ada, tetapi ingatan terhadap maknanya perlahan menghilang. Nisannya masih berdiri, tetapi sudah jarang ada yang datang berziarah.
Karena itu, menurut saya, menetapkan sebuah tanggal sebagai “Hari ...” sesungguhnya baru sebatas mendirikan nisan.
Ia belum menjamin bahwa nilai yang hendak dikenang akan hidup.
Yang menentukan umur sebuah hari peringatan bukanlah keputusan yang menetapkannya, melainkan seberapa jauh generasi setelahnya masih menemukan makna di dalamnya. Sebab ingatan masyarakat tidak dapat dipaksa hanya dengan tulisan pada kalender.
Pada akhirnya, kalender memang dapat menyimpan banyak nama. Namun sejarah hanya akan terus menziarahi sesuatu yang masih dianggap bermakna.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi:
"Hari apa yang perlu kita tetapkan berikutnya?"
Melainkan:
"Dari begitu banyak nisan yang telah kita dirikan di sepanjang kalender, berapa yang masih kita ziarahi maknanya—dan berapa yang sebenarnya telah kita lupakan?"
11 Oktober 2026
*Penulis: Pegiat Bale Desa Blitar
